Apr 25 2009

Romeo Juliet dan Eksklusivitas Kebudayaan Bobotoh

Published by hevi.fauzan at 16:55 under Bandung, bobotoh, persib, renungan

Penulis : Hevi Fauzan

Kita tentu mengetahui, bahwa kota Bandung merupakan kota film di Indonesia. Apalagi ‎pada tahun 1926, di kota ini, dibuat film Indonesia pertama yang berjudul Lutung ‎Kasarung yang disutradarai oleh G. Krugers dan L. Heuveldorp dengan dukungan ‎Bupati Bandung saat itu R.A.A. Wiranatakusumah V.‎

Kemudian setelah itu, berbagai judul film dengan latar belakang kehidupan daerah ‎Bandung mulai bermunculan. Misalnya Karena Daster (1961), Toha Pahlawan ‎Bandung Selatan, Anak-anak Revolusi (1964), Tikungan Maut , (1966), Mereka ‎Kembali” (1972), Mat Peci Pembunuh Berdarah Dingin (1978), Sekuel film Kabayan ‎‎(90-an), Eulis Acih, Bunga Ros dari Cikembang, Ciung Wanara, Air Mata Mengalir ‎di Citarum, Rampok Preanger, Si Kabayan dll.‎

Bandung juga merupakan kota dengan jumlah bioskop yang cukup banyak. Ini ‎menandakan bahwa apreasi warga Bandung terhadap film sangatlah tinggi.‎

Dua bioskop semi permanent pertama berdiri di alun-alun Bandung pada tahun 1907. ‎Dua bioskop tersebut adalah ‘De Crown Bioscoop’ milik seorang bernama Helant dan ‎‎‘Oranje Electro Bioscoop’ milik Michel. Kemudian muncul beberapa bioskop ‎permanent, seperti Elita Biograph, Varia Park, dan Oriental Show di Alun-alun ‎Timur; Alhambra Bioscoop di Kompa-Suniaraja; Orion Bioscoop di Kebonjati; ‎Vogelpoel Bioscoop di Braga-Naripan; serta Deca Bioscoop yang bertempat tepat di ‎belakang kantor pos pusat, Banceuy. Pada pertengahan 1920-an, di Braga yang saat ‎itu merupakan pemusatan hiburan kalangan Eropa, dibangun Concordia Bioscoop ‎‎(populer sebagai Majestic Theater), bioskop elite berstandardisasi Eropa. Di era film ‎bersuara pada 1930-an, di kawasan Pecinan muncul Roxy Theater, Oranje Bioscoop, ‎dan Oranje Park. Sementara di wilayah timur muncul Rivoli Theater di Kosambi dan ‎Liberty Bioscoop di Cicadas.‎

Adalah Gravin de Réthy, seorang bangsawan Belgia yang berkunjung ke kota ini pada ‎‎1930-an sempat bertutur, ‘Zoo’n welverzorgd theater moest Brussel hebben’ ‎‎(Bioskop-bioskop seperti ini sepantasnya ada di Brussel). Komentar Gravin de Réthy ‎menggambarkan bahwa kemajuan bioskop-bioskop di Bandung paling tidak telah ‎menyentuh standar kualitas bioskop di kota-kota besar dunia, seperti Brussel.

Kegemerlapan gedung-gedung bioskop Elita Concern, berimbang dengan animo ‎masyarakat Bandung. Pada masa Hindia Belanda dulu, bioskop dan ‘feesterrein’ di ‎Bandung tidak pernah sepi pengunjung. Pada akhir pekan bahkan orang harus berebut ‎agar tidak kehabisan karcis. ‎

Sejarah diatas menggambarkan, bahwa warga Bandung jaman dahulu sangat ‎mengapresiasi film, baik film dalam negeri maupun luar negeri. ‎

Kemudian, ketika keppres no. 25 tanggal 29 Maret 1999 ditandatangani,  BJ Habibie menetapkan ‎tanggal 30 Maret sebagai Hari Perfilman Nasional, kota Bandung benar-benar diakui ‎sebagai kota yang penting dalam perjalanan sejarah perfilman Indonesia. ‎

Salah satu pertimbangan para tokoh perfilman yang mengusulkan tanggal 30 Maret ‎sebagai Hari Film Nasional sebab pada tanggal 30 Maret 1950, untuk pertama kalinya ‎dibuat film Indonesia yang semuanya dibuat oleh warga pribumi juga diproduksi oleh ‎perusahaan film pribumi. Film tersebut berjudul “Darah dan Doa”, yang ‎mengungkapkan hijrahnya pasukan Siliwangi. Film ini disutradai oleh Usmar Ismail.‎

Bandung benar-benar menjadi kiblat perfilman nasional. Alasannya, Bandung ‎mempunyai suatu festival film tahunan yang bernama Festival Film Bandung (FFB). ‎Festival ini diselenggarakan sejak tahun 1987 dan terus berlangsung setiap tahunnya ‎samapi sekarang. Hebatnya, jika Festival Film Indonesia pernah mati suri di era tahun ‎‎90-an. Festival ini tetap eksis.

Tulisan di atas mencerminkan bahwa kota Bandung memiliki tempat dalam dalam sejarah perfilman ‎Indonesia. Baik sebagai kota pembuat, penikmat, maupun sebagai pengkritik film.

Romeo Juliet
Kemarin, saya membaca adanya pemboikotan film Romeo Juliet  (Romjul) versi Indonesia oleh ‎salah satu organisasi bobotoh Persib Bandung. Tak perlu saya jelaskan bagaimana isi ‎film tersebut, akan tetapi pemboikotan tersebut menimbulkan pertanyaan bagi saya, ‎kenapa ?‎

Saya merasa pemboikotan tersebut tidak berada dalam koridornya. Bagaimanapun, ‎film adalah sebuah karya sastra dengan film sebagai medianya. ‎

Pemboikotan, menurut saya adalah salah satu bentuk dari posmodernis radikal yang ‎menilai suatu Karya sastra dengan kriteria dan penilaian dan standar kualitas sendiri. ‎Hal ini akan menimbulkan eksklusivitas kebudayaan, dimana suatu kelompok ‎berusaha menolak hasil karya kebudayaan kelompok lainnya. Maka menurut ‎budayawan Yasraf Amir Piliang, dosen ITB, dialog merupakan metode yang cocok ‎untuk mencegah eksklusivitas kebudayaan. Dialog ini menuntut keterbukaan dan ‎inklusivitas, bukan sastra prasangka dan eksklusivitas (Yasraf Amir Piliang, Sastra dan E(ste)tika Massa, Pikiran Rakyat).

‎Salah satu metode untuk mencegah terjadinya eksklusivitas kebudayaan ini adalah ‎dengan jalan kritik. Suatu karya bisa ditelaah kemudian dikritik dengan berbagai ‎pendekatan yang ilmiah.‎

Dalam kasus film Romjul ini, kelompok bobotoh tersebut seharusnya bertindak lebih ‎beradab, bermartabat, dan tidak berprasangka buruk. Misalnya salah satu dari mereka ‎ada yang bisa mengkritik film ini dengan membuat suatu artikel di Koran dan internet, ‎supaya orang sedunia bisa membaca dan mengerti, bukan malah mengadakan ‎pemboikotan yang malah memperjelas stigma masyarakat Bandung bahwa mereka ‎adalah kelompok eksklusive, radikal, tak beradab, tak berpendidikan, dan bahkan sampah di kota ‎Bandung. ‎

Bandung, dari dahulu merupakan kota film Indonesia. Tak selayaknya satu kelompok ‎masyarakatnya, mencari muka dengan melakukan pemboikotan terhadap satu film, ‎tanpa alasan yang jelas dan ilmiah.

Jika ini masalah harga diri, masalah menang kalah, maka saya menunggu film ini ‎ditayangkan oleh salah satu TV swasta. Saat itu, pemboikotan adalah hal yang ‎mustahil. Saat itu, film Romjul akan masuk ke setiap rumah di Bandung, tanpa bisa ‎dicegah. Saat itu, semua elemen masyarakat bisa menikmati film tersebut gratis. Saat ‎itu, siapa yang akan tersenyum terakhir ? Menikmati kemenangan …‎

Referensi Tulisan :‎

  • HU Pikiran Rakyat
  • HU Galamedia

Tema Terkait :

13 responses so far

13 Responses to “Romeo Juliet dan Eksklusivitas Kebudayaan Bobotoh”

  1. dinaon 25 Apr 2009 at 18:00

    satuju bin satuja perihal statement bahwa protes, ketidaksetujuan, ketidaksepakatan atau saudara – saudaranya yang lain yang alangkah baiknya disampaikan dalam media – media yang disediakan seperti surat kabar. biarkan “perang” pembentukan image itu dilakukan melalui aktivitas – aktivitas non radikal(aksi langsung berupa boikot, kekerasan,dll). hal itu bisa mendorong juga masyarakat kita untuk lebih cerdas, lebih kritis karena memiliki kesempatan mempelajari ketidaksamaan tadi dari dua sudut pandang.

    mengenai film ROJUL, saya mewakili pihak yang bukan penyuka dan pemerhati bola gak keberatan tuh nonton film yang notabene bukan “gaya” saya. toh saya selalu senang bisa melihat gaya hidup orang lain yang belum tentu bisa saya lihat kalo gak di film, termasuk gaya para bobotoh ini.

    masalah si film dikhawatirkan mencitrakan grup tertentu dengan salah, saya yang udah nonton aja gak serta merta menilai berdasarkan apa yang saya lihat di film tersebut kok. semua orang akan mengolah kembali kok setiap informasi yang di dapat. Malah dalam hati berharap juga bakal dapet jawaban2 lanjutan atau jawaban balik dari pihak2 yang digambarkan dalam film tersebut jikalau apa yang digambarkan kurang tepat. tentu aja adanya jawaban kembali bisa tersebut menjadi bahan tambahan proses pengolahan informasi tadi. untuk nah kalo ada boikot2 begini agak pesimis juga dapet hak jawaban tadi..ya gimana mau di jawab?? di tonton juga enggak ama yang bersangkutan.

    ok, gitu aja…maaf ya pendek banget. trims..

    Ma kasih komentarnya, saya setuju setiap orang bisa mengolah apa yang mereka dapatkan. Jika mereka mendapat sajian ‘negatif’, maka akan diolah menjadi informasi bahwa hal negatif itu tidak boleh mereka lakukan di dunia nyata.

  2. mumuon 25 Apr 2009 at 19:47

    sayang juga ya klo blum apa2 dah main boikot. kayak aa gym aja gak nonton tapi ngritik hehehehe….klo belum tahu isinya sudah bersuara dulu, gimana bisa terjadi dialog? saya kira pembuat film ini akan sangat terbuka kok klo diajak bicara. asalkan, pihak2 yg keberatan itu nonton dulu…dgn begitu bisa didiskusikan, mana bagian yg memberikan citra buruk, dan apakah benar demikian.

    Yup, saya rasa sang Sutradara udah mencoba datang ke Bandung, sayang gak ada kesepakatan, karena pintu hati sudah tertutup…

  3. dinaon 25 Apr 2009 at 22:01

    dari situs tetangga katanya gak diterima dengan baik ya?? kayaknya sutradara berjalan sendiri tanpa dukungan kedua pihak yang di angkat. kenapa gak dianggap bagian dari publikasi?? dari yang gak tau viking jadi tau..

    @mumu
    dimana aa gym berkomentar?? lama gak mendengar pendapat beliau (sejak saya “ngambek”). satu kebiasaan para tokoh kita, terutama kalo mengkritisi film2 berbau sex..mereka nonton dulu baru koment apa cuma denger sekilas berani koment ya??…

  4. Ranggaon 25 Apr 2009 at 22:20

    @dina
    rasanya ngga koq, sutradara berjalan didukung oleh teman2 di jkt.
    Kalopun ada komentar dari jkt tentang pemboikotan, itu hanyalah pendapat pribadi beliau.
    Terbukti, hari pertama dan kedua pemutaran, banyak 21 yg full. Bahkan tiket untuk pemutaran yg jam 7 dan 9 malam sudah habis dari siang.

    Rasanya lucu memang, belum makan suatu makanan, tapi sudah bisa menilai kalo makanan itu enak/tidak..

  5. abahRamon 26 Apr 2009 at 8:42

    setuju dengan artikel ini..

    film RJ ini telah diboikot oleh 2 kelompok yg justru diangkat dr film ini, Viking dan The Jakmania. namun, komentar dari 2 petinggi kelompok tsb justru tidak mewakili aspirasi dr ‘arus bawah’..

    saya (The Jak) jg punya temen-2 Viking, justru mrk merasa penasaran dg isi dr film tsb, mrk ingin sekali menyaksikan film tsb. sementara di Jakarta, petingginya menolak tapi bioskop malah makin penuh..

    2 petinggi ini berkomentar setelah melihat trailer yg berdurasi 2 menit atau karena tidak diikut sertakan dlm film tsb..??? namun untuk point ke 2, pihak pembuat film justru sudah jauh-2 hari berkordinasi dg 2 petinggi itu.. Lalu kenapa..???

  6. dinaon 26 Apr 2009 at 19:06

    @rangga
    oh gitu ya..kalo di bogor sepi bukar karena boikot deh kayaknya..karena masih hari ke-2 waktu saya nonton..jumat malam pula..dan saya rasa publikasinya gak banyak ya??

    waktu nonton cuma ada 10 orangan deh di dlm..film mulai ada lagi beberapa..sampe 3 barus belakang penuh. tapi enak nonton gini..depan saya semua bangkunya kosong..saya cekikikan waktu nonton serasa gak ganggu banyak orang..

  7. [...] : Hevi Fauzan Romeo*Juliet Film untuk [...]

  8. norsemenon 27 Apr 2009 at 10:06

    Dalam kasus film Romjul ini, kelompok bobotoh tersebut seharusnya bertindak lebih ‎beradab, bermartabat,
    ——————————————————————
    rasanya tidak perlu mengatakan VIKING tidak beradab, tidak bermartabat..

    karena para kiyai dan cendekiawan muslim yg tidak setuju dengan film wanita berkalung sorban pun, melakukan tindakan yg sama..memboikot film tersebut

    http://www.muslimdaily.net/2009/02/06/Imam+Besar+Istiqlal+Serukan+Boikot+Film+Perempuan+Berkalung+Sorban.html


    Apakah saya menulis bahwa Viking TIDAK beradab ?

  9. Bang Aswion 02 May 2009 at 10:38

    Berita hari ini di PR, sutradaranya dikeroyok oleh oknum tertentu di PVJ Mal sehingga membuat sang korban melaporkan Heru Joko (Ketua Viking) ke polisi. Hingga sekarang, HJ belum mengeluarkan statement-nya. Tidak menyalahkan siapa-siapa, yang jelas seluruh elemen masyarakat (apalagi PERSIB Mania) menunggu komentar kedua belah pihak, yaitu pihak perfilman dan pihak Viking. Apa dan siapa yang jadi permasalahan?

    Setuju banget dengan Fauzan, media adalah senjata ampuh untuk membuktikan kecerdasan seseorang atau kelompok tertentu.

  10. antoon 06 May 2009 at 20:39

    ini hanya sekedar saran buat akang akang yang competent dalam bidangnya gini, yang di hawatirkan itu bukan masalah di filmnya tapi akibatnya pencitraan yang akan muncul setelah film itu tayang di mana mana apalagi klo sampai di tv. di situ seakan seakan se orang the jak mati di tangan viking itu akan menimbulkan sebuah opini yg miring tentang bobotoh dan persib sendiri. bila kita liat realnya konflik ini siapa yg mulai sih? kita masih ingat ketika viking mengikuti kuis di salah satu acara tv swasta yg di ikuti oleh sejumlah supporter viking berhasil menang, mereka setelah di luar di aniaya oleh the jak sedangkan di film kita yang membunuh mereka ini kan akan membalikan fakta nyata. ehm tapi buat produser and sutradara kalian emang hebat melihat peluang mengambil keuntungan dari perselisihan ini.

  11. indra khon 12 May 2009 at 21:04

    Akan lebih bijak jika mengungkapkan ketidaksetujuan atau counter dengan tulisan di media, konferensi pers, atau membuat film juga.

  12. hendra bimaon 10 Jun 2009 at 20:11

    mau gimana lagi bos….susah masukin nalar ke otak yang udah fanatik.

    VIVA PERSIJA LOYALITAS TANPA BATAS

  13. Babayon 10 Dec 2009 at 21:03

    @anto:

    Itulah sebabnya apa yg perlu dikhawatirkan ialah adanya orang yang berpandangan satu sisi karena jiwa fanatisme sudah memakan logika kamu. Bukan disitu maksud dan tujuan akhirnya. Cobalah matikan sisi fanatisme anda sesaat anda berpikir daqn melihat film ini dengan logika yang bersih.
    Mengenai siapa yg mulai,boleh tau sudah berapa lama anda membela Persib,kalau anda sudah cukup lama berarti anda pernah mengalamai persis apa yg ada dalam artikel dibawah ini:

    http://www.facebook.com/topic.php?uid=3976298418&topic=12344&post=84916

    ini bobotoh sendiri yg buat.

    Tidak ada yg lebih indah selain perdamaian.Karena kita adalah bangsa Indonesia,bukan hanya Sunda, Betawi, Jawa dan lainnya.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply