Apr 21 2009

Bungkam atau Amnesia ?

Published by hevi.fauzan at 2:21 under Bandung, persib, renungan

Gara-gara pertandingan Persita – Persib besok dilangsungkan di Jalak Harupat, ‎saya jadi berpikir, kenapa pihak Persita memilih Jalak Harupat, yang notabene ‎telah menjadi kandang kedua bagi Persib Bandung selain Stadion Siliwangi. Satu hipotesa ‎saya adalah masalah pemasukan dari tiket. Pihak Persita pasti sudah memperkirakan, ‎bahwa pertandingan ini akan menarik bobotoh dan ditargetkan full. Jadi mereka akan memperoleh keuntungan dari pemasukan tiket.‎

Lalu pertanyaan saya beralih, kapan ya Persib punya stadion sendiri? Saya lalu ‎menghubungi mbah Google untuk menjawabnya.‎

Ternyata, peletakan batu pertama stadion Gedebage, daerah yang akan dijadikan ‎stadion, dilakukan akan hampir telah setahun yang lalu. Ya, tanggal 21 bulan Mei ‎‎2008. Peletakan (jangan pake logat batak) batu pertama dilakukan oleh bapak Dada ‎Rosada, sebagai orang yang berjanji akan membangun stadion tersebut. Saya lihat ‎tanggal sekarang di komputer, ternyata sekarag sudah tanggal 20 April 2009 (waktu ‎Saudi). Berarti kira2, peletakan batu pertama dilakukan 334 hari yang lalu, dengan ‎asumsi 1 tahun = 365 hari. Saya bertanya, lalu batu keduanya, terus ketiga, terus keempat, kapan ?‎

Siapa yang lupa, siapa yang terlupakan, siapa yang pura-pura lupa ? Inilah penyakit ‎bangsa Indonesia, amnesia, ingatan pendek, mudah lupa, dll. Lalu bagaimana orang-‎orang yang berbenturan langsung dengan sejarah peletakan batu pertama ?‎

Pak Dada, selang beberapa waktu kemudian, berhasil terpilih kembali menjadi ‎walikota Bandung. Bisa jadi, peletakan batu pertama hanya menjadi arena kampanye ‎terselubung, seperti halnya acara lounching Persib bandung 2008-2009. Peletakan ‎batu pertama, hanya dijadikan isu politik supaya bobotoh Persib memilih dirinya pada ‎pemilihan walikota. Setelah terpilih, ternyata pak Dada diam saja terhadap masalah ‎ini. Parahnya, walau Persib terpaksa harus melakukan partai kandang di Jalak ‎Harupat, stadion bertaraf internasional milik pemkab Bandung, pak Dada tidak ‎merasa malu melihat Persib menyewa di sana. ‎Tebal muka dan amnesia akut.

Viking, merupakan kumpulan terbesar bobotoh, menjadi salah satu saksi peletakan ‎batu pertama ini. Dalam satu berita kompas yang berjudul Pembangunan Stadion ‎Baru Persib Dimulai, termasuk juga wawancara antara Kompas dengan ‘petinggi’ Viking.

Bobotoh Persib yang tergabung dalam organisasi Viking, mengaku sangat bangga dan ‎menyambut gembira dengan dimulainya pembangunan SOR Gedebage. Bobotoh, ‎seperti ditegaskan Yana Bool dan Rudi Boseng, dari dulu sangat berharap sekaligus ‎memberikan dukungan penuh atas pembangunan SOR Gedebage.‎

‎”Jelas kami bangga. Untuk itu kami bobotoh Persib, akan hadir menyaksikan ‎langsung acara peletakan batu pertama pembangunan SOR Gedebage dan stadion ‎Persib. Kami akan menyaksikan langsung karena ini (peletakan batu pertama, Red) ‎akan jadi peristiwa bersejarah terutama bagi Persib,” kata Yana dan Boseng.‎

Lalu, setelah sekian lama, dimana suara mereka, khususnya kedua orang ini ? Dan ‎belum pernah saya dengar lantangnya suara mereka tentang kelanjutan pembangunan ‎stadion ini. Padahal ini demi Persib, tim yang katanya mereka banggakan, tim yang ‎katanya akan mereka sampai mati. Kenyataanya ?

Mungkin benar kata teman saya, mereka tidak lebih dari tim cheerleader belaka.‎

Saya sebenarnya pernah menuliskannya di Persib.net tentang kasus ini. Akan tetapi saya tulis ‎dalam bahasa Inggris. Mungkin Pak Dada, Viking, atau bobotoh lain belum bisa ‎bahasa Inggris, silahkan buka kamus sendiri.‎

I hope this development is pure political will from the city government. As we have ‎known, that Bandung will held a major election in the next august. I hope this ‎moment will not be a political move and be used to be a black campaign from the ‎recent major to get more voter in the election.‎

Persib is Bandung itself. Everyone in Bandung loves this club and will do everything ‎for this club. But please, do not use this loving to be a personal purpose. We just love ‎and support, not more.‎

Sangat sedih rasanya, jika hal ini cuma menjadi bahan kampanye saja tanpa kelanjutan yang jelas. Bungkam atau amnesia ? Anda sendiri yang bisa menjawabnya.‎

Wassalam

Tema Terkait :

2 responses so far

2 Responses to “Bungkam atau Amnesia ?”

  1. jenkon 21 May 2009 at 2:01

    Mungkin menurut saya, perlu sering-sering aja pemilu diadain…..

  2. zatnikaon 21 Jul 2009 at 17:47

    Pak Dada tahu harus berbuat apa untuk “menenangkan” masyarakat. ya dengan mendekati “perwakilan” –nya.

    sehingga ketika issue persib akan mundur dari Liga, tuntutan pun beralih kepada, peraturan mendagri yang harus direvisi, bukannya mencari cara meluruskan langkah gerak organisasi.

    overall, artikel yang bagus kang…
    membuka mata dan mengusik hati kita semua, saya menjadi “gereget” dengan diri saya yang tidak bisa berbuat apa-apa (selain klomentar disini) sebagai diri yang mengaku bobotoh.

    Hatur nuhun tos dongkap ka dieu,

    Sama, saya juga gak bisa apa2, cuma bobotoh biasa… ;)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply