Dec 24 2008
Importir Buah-buahan
Saya sekarang bekerja di sebuah perusahan Saudi yang bergerak di bidang perdagangan. Perusahaan ini mengimpor buah-buahan dari beberapa negara, kemudian menjualnya langsung di pasar tradisional, di tengah kota Dammam.
Buah-buahan seperti apel, jeruk, anggur, dan beberapa buah yang saya belum tahu namanya dalam bahasa Indonesia, diimpor langsung dari Negara-negara tetangga seperti Turki, Libanon, Mesir, Syiria, bahkan dari India. Setiap hari, datang 2 atau 3 kontainer peti kemas pengangkut buah-buahan ke gudang penyimpanan. Setiap pagi, buah-buahan tersebut dijual kembali di pasar tradisional dengan diangkut 2 kontainer besar.
Saudi memang membuka kesempatan yang besar bagi para pebisnis. Di sini, orang arab bersifat konsumtif, uang bukan menjadi masalah, sehingga uang bisa berputar sangat cepat. Murahnya bahan bakarpun menjadi salah satu pendukung perekonomian masyarakat di sini. Dan pemerintahpun sangat memperhatikan masalah keamanan. Jangan Tanya apa hukumannya jika para aparat melakukan pencegatan dan pungutan liar terhadap kontainer di tengah jalan.
Selain itu, setiap bisnis yang mulai dibangun harus terdaftar di kamar dagang dan industri setempat. Sehingga, setiap bisnis dapat tercatat walaupun sekelas warteg ataupun tukang cukur. Dan hebatnya, proses pendaftaran itu tidak memberatkan dan merepotkan.
Kembali ke masalah impor, saya tidak melihat adanya monopoli di sini. Mengapa saya menulis masalah monopoli juga ? Karena pas mendengar kata impor, pikiran saya langsung tertuju ke Cibuntu, pusat industri tahu di kota Bandung. Apa hubungannya impor dan Cibuntu ? Karena kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tahu, merupakan hasil impor dari Amerika. Dan telah kita ketahui, beberapa waktu lalu, entah sekarang, telah terjadi monopoli impor di sana, sehingga importir dapat dengan seenaknya mempermainkan harga kedelai sehingga sangat memberatkan para pengusaha tahu di sana.
Saya hanya dapat membayangkan, jika saja tidak terjadi monopoli dan harga kedelai dijual dengan harga normal di sana, maka mungkin saudara-saudara saya di Cibuntu akan lebih baik kehidupannya.
Wassalam.



Iya Kang, itulah sebagian Endonesia teh . Sagala hawek meureun
Dimana Qie, muhun di dieu, di Saudi, hehehe…
Indonesia, gimana yah, sangat jauh kalau di banding di sini. Di sini, parkir mobil di pinggir jalan aman. Kemaren saya belanja barang bekas pake sepeda, trus sepeda d parkir tanpa dikunci, kira2 5 jam sampe malem, aman2 saja.
Mungkin ilustrasi tersebut bisa mewakili keadaan di Saudi.
kanggo nabung nikah abdi
hehehe….
Apa yah ? adakah yang layak ? itu pertanyaan saya kang hari2 sebelumnya. Mungkin tenaga kerja pria yang layak, soalnya banyak temen2 dari Sunda di sini dan alhamdulillah bekerja di kantor.