Dec 23 2008

Kisah Sepasang Sendal

Published by hevi.fauzan at 23:55 under Arabia, TKI

Sepasang sendal berwarna biru (mengapa warnanya biru, pembaca bisa menerka sendiri), yang saya beli tanggal 1 Syawal 1429 H malam di Supermarket Giant kota Qatif, Saudi Arabia. Saya membeli sandal tersebut untuk mengganti sandal swallow, yang saya beli di Indonesia seharga 5000 rupiah.

Keistimewaan sandal ini bagi saya adalah selalu menemani kemanapun saya pergi. Baik ke kamar mandi, jalan-jalan, belanja, bahkan untuk ngantor. Ya, setiap hari saya bekerja di Qatif selama 3 bulan kemarin menggunakan sandal. Bahkan sebelumnya, saya mengguakan sandal swallow untuk bekerja di Maktab istiqdam tersebut.

Uniknya, majikan orang Arab tempat saya bekerja tidak memperdulikan hal tersebut. Secara umum, mereka kurang memperhatikan masalah penampilan. Mereka tidak melihat saya menggunakan alas kaki apa, baik sandal ataupun sepatu. Mereka terkesan tidak peduli. Bahkan ketika saya bekerja pun, saya terkadang menggunakan celana jeans, dan terkesan santai. Tapi untuk baju, mereka menyarankan saya bekerja menggunakan baju yang berkerah, dan lagi ketika saya tidak mengunakan baju berkerah di waktu lainpun, mereka tidak peduli. Walau begitu, saya tetap menjaga kesopanan dalam berpakaian, karena pada saat bekerja, saya terus berinteraksi, bertatap muka, dan bebrbicara dengan para pelanggan yang umumnya para majikan yang mencari tenaga kerja dari luar Saudi.

Di kantor baru ini pun, saya kembali berpakaian seadanya. Di sini, saya bekerja tidak lagi berinteraksi dengan para pelanggan, dan tetap saya bekerja di belakang meja. Di sini pun saya berpakaian pakaian yang sopan seadanya. Terkadang saya menggunakan jeans, dan baju yang sopan. Apalagi di musim dingin ini, saya bekerja menggunakan sweater kadang jaket dan penutup kepala.

Kesan yang saya dapatkan adalah mereka tidak menilai penampilan kita dari luar. Bahasa kerennya tidak menilai buku dari sampulnya. Mereka benar-benar melihat kemampuan dan isi otak kita. Mereka tidak melihat penampilan kita yang jika datang ke kantor harus tampil keren, seperti misalnya menggunakan jas, tidak bercelana jeans, dan bersepatu.

Ada satu pengalaman yang selalu membuat saya tertawa jika saya mengingatnya. Suatu ketika, teman saya yang bernama Muhammad bermaksud melamar di tempat saya bekerja dulu sebagai penerjemah. Setelah mendapat acc dari majikan untuk melakukan wawancara, beliaupun datang ke kantor. Tebak apa yang beliau pakai ? ya, baju berkerah, celana kain, dan sandal, hehehe. Tapi majikan saya tidak mempedulikanya. Majikan saya menerima beliau dengan hangat dan langsung melakukan wawancara dan mengetes sejauh mana kemampuan bahasa Arab teman saya tersebut, yang memang sudah ada di tingkat mahir. Tidak ada sedikitpun pembicaraan tentang pakaian, bahkan sandal sekalipun.

Jangan disamakan dengan Indonesia jika teman saya berpenampilan seperti itu di Indonesia. Di sana, penampilan sangat dinilai. Para pencari kerja yang melakukan test wawancara harus memakai pakaian standar wawancara, kemeja, celana kain, sepatu, bahkan jas dan berdasi. Dan kemampuan berada di nomer dua, dengan diwakili nilai2 ijazah dan kata2 indah yang dirangkai dan digunakan pada saat wawancara berlangsung. Atau bahkan jika terjadi KKN, maka yang diwawancara otomatis akan diterima bekerja, walaupun, meminjam istilah orang Arab, Ma fii Muh (tidak berotak). Coba Bayangkan seandainya kita melakukan wawancara di Indonesia dengan berpenampilan seperti teman saya tadi, bisa-bisa kita akan disuruh pulang duluan sebelum wawancara dimulai.

Bagaimanapun disini, alhamdulillah kemampuan komputer saya yang pas2an, menulis di program word, dan menggunakan table excel sangat dihargai. Bahkan majikan saya yang baru sekarang menempatkan saya di kantor beliau, khusus bagian komputer dan printer. Artinya, jika ada dokumen yang perlu diketik dan di-print, saya bagiannya.

Kantor ini menggunakan karpet untuk menutup lantainya. Otomatis untuk masuk ke kantor semua alas kaki harus d buka. Maka saya pun melepas sandal saya di luar, sebelum masuk ke kantor.

Kemarin saya membeli sepatu bekas seharga 10 real. Sepatu ini insya allah akan saya gunakan untuk berolahraga, khususnya lari, dan akan menemani saya jalan2 di musim dingin ini. Mungkin untuk saat ini, sandal saya akan sedikit berkurang aktifitasnya, dan menunggu musim panas tiba.

Wassalam

Tema Terkait :

No responses yet

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply