Aug 13 2008
Stasiun Banjaran
Beberapa waktu lalu, kami sekeluarga berkunjung ke kota Banjaran. Banjaran adalah sebuah kota kecamatan yang berjarak 30 KM (CMIIW) arah selatan kota Bandung. Kami menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman sekelas saya dan istri ketika berkuliah di Sastra Arab IAIN (UIN sekarang) Bandung. Ternyata, resepsi pernikahan diadakan di ruang terbuka, tepatnya disebuah lapang badminton yang disulap menjadi tempat resepsi dengan panggung dan tertutup atap buatan. Dan lebih menarik lagi, lapangan badminton terletak di pinggir stasion kereta api Banjaran.

Kenangan pun menyeruak. Kira-kira pada tahun 80-an, saya pernah bermain di daerah ini, di stasiun ini. Pada saat itu, jalur Bandung Ciwidey yang melewati stasiun ini memang telah ditutup, tepatnya ditutup pada tahun 1975. Saya ingat, keadaan stasiun yang masih utuh, dengan beberapa rel yang berjajar, dan luasnya sawah hijau yang membentang di sebelah barat. Tapi kini, stasion telah berubah fungsi, terlihat seperti sebuah gudang. Konon katanya, beberapa tahun lalu stasion ini pernah terbakar, dan masih sedikit terlihat sisa-sisa kejayaan kereta di sini. Terlihat crane yang sudah karatan masih berdiri di tengah stasion, dan hampir semua rel yang rata dengan tanah.

Dikutip dari blog ini, kita bisa mengetahui, bahwa KA rute Bandung-Ciwidey merupakan jasa angkutan masal pertama yang pernah ada di kawasan Bandung Selatan, KA ini berfungsi untuk mengangkut barang-barang komiditi perkebunan. Jalur ini dimulai dari Stasion Cikudapateuh, Pasar Kordon Buahbatu, Pamengpeuk, Banjaran, Soreang dan berakhir di Ciwidey. Menurut Kuncen Bandung, Bapak Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Penulis : Haryoto Kunto, PT. Granesia. Cetakan Ke. I April 1984, Cetakan Ke II Mei 1984 dan Cetakan Ke III April 1985) jalur ini dibangun 2 tahap, tahun 1918 Bandung-Kopo dan diteruskan ke Ciwidey pada tahun 1921 oleh Perusahaan Kereta Api Negara (”Staats Spoorwegen”/ “SS”) untuk keperluan :
- Alat angkutan hasil produksi perkebunan Wilayah Priangan, yang kala itu menjadi barang komoditi ekspor yang laku keras di pasaran dunia.
- Sarana pendukung dalam rencana pemekaran wilayah Gemeente Bandung di tahun 1919.
Dengan mundurnya permintaan hasil perkebunan Priangan di pasaran dunia, maka sedikit demi sedikit jalur K.A. itu tidak lagi dipergunakan. Apalagi setelah kendaraan bermotor truk yang lebih fleksibel mengangkut muatan “door to door”, mulai beroperasi di kawasan Bandung, maka fungsi K.A. cuma jadi alat angkutan penumpang. Yang nota bene, tidak begitu menguntungkan akhirnya jalur ini di nonaktifkan pada tahun 1975. Penonaktifan jalur ini, dimulai dengan penonaktifan jalur Soreang Ciwidey pasca kecelakaan kereta yang mengangkut kayu di daerah Cukanghaur (Tjukanghaoer) pada tahun 1972. Dan beberapa tahun kemudian, seluruh jalur ini dinonaktifkan.

Beberapa tahun kebelakang, ada niat PT KAI menghidupkan jalur ini kembali, akan tetapi sampai sekarang kabar itu tidak terdengar lagi. Dan stasion Banjaran, hanya bisa menjadi kenangan masa lalu. Tak lupa, saya pun menerangkan hal ini pada saat anak saya yang sangat antusias melihat rel-rel berkarat dan crane yang masih berdiri di stasion tersebut.
Wassalam






Alangkah baiknya apabila PJKA/Pemerintah dapat mengoperasikan lagi jalur KA ini, karena disamping mempunyai nilai historis juga bisa mengurangi kepadatan lalulintas di Bandung selatan dan yang terpenting Masyarakat sangat terbantu untuk transportasi dari kawasan selatan Bandung menuju ke Kota dan sebaliknya.
Melihat kondisinya sekarang saya sangat PRIHATIN, bisa2 nya jalur KA jadi jadi Kawasan Perumahan? Apa sengaja oleh pihak PJKA lahannya disewa-sewakan? atau memang sudah dijual dijadikan Kavling Perumahan Bekas Jalur Kereta Yang Tidak Indah danHeurin usik alias padet bin sareukseuk.
Kalau memang Pihak Pemerintah Tanggap, jalur ini sebaiknya digunakan jalan aja dikiri dan kanannya dan seandainya jalur KA nya memang mau di fungsikan lagi tinggal memperbaikinya lagi dari pada kaya sekarang, kan bisa mengurangi kepadatan arus lalulintas kendaraan karena beban jalan Bojongsoang dst sudah tidak muat lagi, dan pasti Masyarakat sangat mendukung!!!!!
Iya, tapi aspek sosial, ekonomi, dan budaya para penduduk sekitar rel juga harus dipertimbangkan. Penggusuran lahan harus dilakukan secara bertahap dan tidak main paksa begitu saja. Setidaknya kira-kira 2 tahunan lah sosialisasi dulu kepada warga sekitar rel supaya segera mencari lahan baru.
PT KAI nya cuma janji2 aja yah…?

Gak ada dana kali kang. Tapi tetep jangan jaanji ya,
Hanya tuk mengucapkan…..
Merdeka Atau Mati!!!
Sejelek - jeleknya negeri ini…
Seburuk - buruknya negeri ini…
Sehancur - hancurnya negeri ini…
Ku tetap cinta INDONESIA…
Bangsaku…Negeriku…Tanah Airku
DIRGAHYU REPUBLIK INDONESIA KE 63.
MERDEKAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Tahun 80-an sayah masih berbentuk cinta…
wah kang, ka banjaran?
macet nya? hehe…
padahal beberapa waktu (tahun?) lalu pernah ada desas desus katanya jalur itu mau diaktifkan lagi. tapi ga tau ketang.
Padahal kalau ada kereta, saya ga harus papanasan nungkulan jalan nu macet parah di dayeuh kolot mun ka bandung
makasih kang blog saya dimasukkan ke blogroll.
Hatur nuhun kang.
Iyah kang ka Banjaran, Macet, panas, berdebu. Sampe istri saya ogah lagi ke BJR kecuali naek mobil, maklum naek motor. hehe …