May 20 2008
Manajemen si Tukang Tahu
Cerita 1 :
Di tengah ekonomi yang sulit melilit lit lit, harga pokok merambat naik, BBM naik, begitu pula dengan harga kedelai yang dimonopoli segelintir orang, para pengusaha tahu cibuntu terus berjuang mempertahankan eksistensinya. Bagaimana tidak, kehidupan mereka tergantung pada tahu. Tahu cibuntu merupakan makanan khas kota Bandung yang sayangnya, bahan dasarnya harus diimpor dari Ameika.
Bagaimanapun, mereka harus dan berusaha untuk tetap bertahan di tengah situasi yang sulit ini. Tetapi mereka memang terlahir sebagai pengusaha sejati. Segala hal mereka tempuh supaya tahu mereka tetap laku dan sekaligus tidak membuat kecewa para pelanggan. Mereka tahu, mengecewakan pelanggan merupakan hal yang tabu, apalagi ditengah persaingan dagang yang sangat ketat.
Secara teknis, ketika harga-harga naik, ada dua cara yang mereka ambil Pertama, mereka sedikit mengurangi ukuran tahu dan menjualnya dengan harga yang sama. Kedua, mereka malah memperbesar ukuran tahu, akan tetapi menjualnya dengan harga yang sedikit mahal. Memang, untuk mmemuaskan para pelanggan, meraka sangat jeli dan apik. Kuncinya, mereka mengetahui berapa harga jual yang harus ditetapkan supaya di satu pihak, dagangan mereka tetap laku dan menghaslkan profit dan di sisi lain, pelanggan mereka dapat tetap terpuaskan.
Cerita 2 :
Seorang sahabat saya curhat tentang tim sepakbola kesayangannya. Tim ini sangat sulit mendapatkan sponsor. Dengan nama besar, sejarah yang panjang, dan dukungan masyarakat dan pemerintah yang kuat, tim ini masih saja bergelut dalam kesulitan dasar suatu organisasi yang bernama manajemen.
Manajemen memang menjadi urat nadi dalam setiap organisasi, perkumpulan, maupun perusahaan. Suatu organisasi atau perusahaan yang tanpa dibarengi manajemen yang kuat, mungkin kita akan mengetahui nasib organiasi atau perusahaan itu selanjutnya.
Sahabat saya ini bercerita tentang sulitnya mendapatkan sponsor bagi tim tersebut. Betapa tidak, beberapa perusahaan yang apply untuk menjadi sponsor mundur satu per satu. Sahabat saya menyoroti masalah manajemen klub tersebut yang ternyata tidak mampu menetapkan nilai jual yang melekat di klub tersebut. Manajemen mematok terlalu tinggi harga jual klub ini, padahal, beberapa masalah klasik hinggap di klub tersebut, yang membuat harga jualnya menjadi rendah, sehingga para sponsor yang berminatpun seperti yang diceritakan di atas, kabuuur.
Saya berpendapat ini adalah masalah manajemen dan membaca keadaan. Dari cerita pertama di atas, para juragan dan pedagang tahu selalu mengikuti pekembangan dan mampu membaca keadaan sehingga mereka dapat memanajemen dan menetapkan harga jual tahu mereka dengan pas dan tepat. Sejujurnya, keadaan sulit dan tidak nyaman itulah yang membentuk mereka untuk selalu waspada.
Sebaliknya, keadaan yang jauh dari kesulitan dan merasa nyaman dengan kehidupan, membuat para manajemen klub yang diceritakan pada cerita 2 menjadi lalai. Mereka tidak waspada dan tidak mengikuti trend jaman. Akibatnya, penetapan harga didasari keputusan subjektif, tanpa memperatikan alur logika dan keadaan jaman.
Sahabat sayapun menolak ketika ditawari menjadi ketua tim marketing klub tersebut, walau dimingi dengan bayaran yang tidak pernah ia bayangakan sebelumnya. Mungkin sahabat saya sadar, klub ini masih menggunakan uang rakyat, sehingga setiap sen pengeluarannya, secara ideal harus dipertanggung jawabkan kepada rakyat juga. Sahabat saya dengan bijak berkata : “Maaf, saya masih ingin masuk surga!”






haha.. alus, euy. mari membangun, teman..
Mari2, mari kita bangun tim ini bersama. Tp harus robohkan dulu temboknya ya?