Jan 06 2008
Nama Kota pun Diembat, Kenapa Harus Bandung?
Miris juga membaca Headline sebuah surat kabar di Malingshit yang berjudul : ‘Mini Bandung’: Pusat maksiat pekerja kilang. Padahal dalam tulisannya tak satupun melibatkan orang Bandung di dalamnya. Berita tersebut menggambarkan adanya razia di daerah yang dikasih nama Mini Bandung. Dan para petugas menemukan sepasang manusia yang sedang ‘bermesraan’, kalau gak mau disebut sedang berzina.
Yang menjadi pertanyaan kenapa harus kata ‘Bandung’. Kalau memang mau memberi nama, hendaknya sesuai dengan kondisi yang dinamainya. Siapa yang belum pernah ke Bandung. Walaupun dari segi tata kota, kota ini lagi terpuruk karena ketidakbecusan pemerintah kotanya, tapi dari segi lain, kota ini masih sepeti kota yang dulu, dan menjadi tujuan pelancong-pelancong khususnya orang Jakarta untuk berweek-end ria di Bandung.
Jika harus mengkaitkan Bandung dengan hal-hal under cover begitu, kota-kota lain juga mempunyi permasalahan yang sama. pertanyaannya semula adalah kenapa harus Bandung. Orang Indonesia sendiri tidak berani mengatakan bahwa Bandung adalah kota yang terkenal dengn under cover-nya. Kecuali orang Indonesia sendiri mengakui akan kelebihan gadis-gadis Bandung, seperti halnya orang-orang Eropa yang tingal pada abad 19 dahulu.
Kota yang sejuk, indah asri, dengan pemandangan para wanitanya yang dapat ditemui di setiap tempat membuat kita akan betah untuk tinggal di kota ini. Coba hitung berapa kendraan letter B singgah di Bandung pada hari minggu atau libur lainnya. perbandingan dngan kendaraan pribumi dalah hampir mencapai 50-50. Ini menunjukan bahwa Bandung masih mempunyai pesona untuk disinggahi. Saya tidak bisa menyebutkan berapa persen dari para pengunjung itu ‘meniduri’ kota Bandung. Jelas semua pendatang yang singgah di kota Bandung pun tidak mau dikatakan merka datang ke Bandung hanya untuk sekedar ‘tidur-tidur’. Gadis Bandung manis, ya, menarik, ya, semua orang tahu itu. Tapi hanyalah oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan hal terebut. Parahnya, para gadis pendatang yang datang ke Bandung untuk mencari nafkah sekedar untuk ‘ditiduri’ dan mengaku sebagai orang Bandung, sehingga menarik nama kota Bandung menuju arah yang menjijikan.
Atau sepeti yang dikatakan Bapak Eka suripto dari KBRI Malaysia : “Hal itu bisa diartikan bahwa masyarakat Malaysia menilai kota Bandung sebagai kota pelacuran atau bisa juga warga Malaysia berhidung belang biasa mencari pelacur di Bandung sehingga menimbulkan persepsi Bandung sebagai kota pelacuran.”
Suatu judul dari kesimpulan yang naif. Dari kata-kata tersebut dapat diambil beberapa hipotesis. Pertama, Jika warga Malaysia berpandangan seperti itu, berarti sebagian mereka telah merasakan sendiri pernah ‘meniduri’ kota ini. Dan sebagian besar dari mereka dapat dikatakan pernah memakai jasa pelacur di kota ini, belum di kota2 lainnya, atau di negeri sendiri. Maka hipotesis awalnya adalah bahwa sebagian dari mereka adalah penidur pelacur.
Kedua, sebagian besar para wisatawan Malaysia yang datang ke Bandung hanya sekedar ‘meniduri’ kota ini. Begitu banyaknya wisatawan ‘penidur’, sehingga mampu membuat opini tentang Bandung seperti itu.
Yang ketiga, bisa jadi si wartawan sendiri pernah datang ke Bandung, sekadar untuk ‘tidur’, dan tidak pernah melakukan aktifitas di kota ini kecuali hal tersebut, sehingga menggambarkan Bandung sebagai kota seperti itu.
Saya mengakui bahwa kota ini tidak sempurna, tidak munafik dengan masalahnya khususnya pelacuran, tapi seperti kota2 lain di semua negara, permasalahan gadis-gadis penghibur memang sangat komplek. Apalagi di tengah himpitan ekonomi seperti ini. Yang saya sesalkan, kenapa harus Bandung. Apakah berarti kota-kota di Malaysia begitu bersih, suci sehingga tidak layak dikaitkan dengan hal ini.
Dan seperti biasa, pemerintah berdiam diri dengan hal ini.


